MODEL KEROHANIAN BALI KONG [ BALINGKANG ] TERLETAK PADA KUALITAS CINTA BUNDA KONG CHE WEI


Sebagai landasan mencapai kehidupan yang sempurna pada hakekat kualitas hidup jasmani maupun kualitas hidup rohani, dimana bahagia merupakan pencapaian hidup, maka sudah saatnya kita kembali pada model pengetahuan kerohanian  yang berdasarkan konseptual, ritual dan spiritual dasa parimitha yang diajarkan oleh Bunda Kong Che Wei.

Bali-Kong merupakan peradaban masa kejayaan Bunda Kong Che Wei yang menjunjung tinggi nilai-nilai luhur spirit sejati, yakni memadukan antara kekuatan bhumi oleh Shri Jayapangus  sebagai pengemban amanah ajaran Tantra Bhirawa Bali Kuno untuk potensi hidup nyata ( sekala ).
Kesadaran rohani sebagai pemahaman utama menuju paramitha sebagai Budha adalah adalah tujuan seluruh manusia yang menjunjung tinggi ratunya dengan bermahkotakan emas ( rambut sedhana ) yang dikenal Ratu Ayu Mas Meketel didanaunya yang berwarna kuning kilauan keemasan, sehingga sangat wajar dinamakan Kintamani, tempat memadukan cinta dan citta.

Kekuatan bhumi melahirkan konsep shakti, kekuatan dalam wujud kemampuan mengelola seluruh potensi alam menjadi sesuatu yang bermanfaat sehingga dapat diperoleh pahala sebagai buah kenikmatan hidup dialam nyata ini. Bhirawa adalah wujud kehidupan yang beraneka ditiga dunia ( tribhuwana ) dan tiga abhiseka.

Kesadaran rohani ( paramitha terakhir ) merupakan kualitas pengertian sebagai mahluk sunyata yang turun bertubuhkan manusia sebagai proses perbaikan karma dimasa lalu menuju perubahan dan perbaikan sampai pada kualitas hidup hakiki yakni manunggal ri Sangkan Paraning Dumadhi.....gate gate paragate, para samgate bodi svaha, yang diajarkan Bhatari Alokitesvara Kong Che Wei.

Konseptualnya adalah sebuah metode penggalian pengetahuan melalui pembelajaran segala macam ilmu pengetahuan dalam bentuk konsep hidup yang dikenal kabudhaan. Pengetahuan ini merupakan aturan ( dhàt ) kehidupan ( rà ) pada wilayah permukaan bhumi ( mà ), jadi aturan yang mengikat sebagai kewajiban hidup diatas permukaan bhumi dikenal dengan "dharma". Sedangkan catatan-catatannya dinamakan sastra. Dalam hal ini masyarakat Bali-Kong menggunakan prinsip Siwa-Budha Manunggal sebagai dasar dharmasastranya, dikenal dengan Vajrayana.

Ritualnya adalah sebuah pelaksanaan kegiatan upacara keagamaan yang mengutamakan wujud energi yang diformasi sebagai banten upakara ( bebali ), sebagai penjabaran ajaran atau filsafat hidupnya dengan skenario tertentu oleh para pendetanya, diharapkan dapat memperoleh manfaat hidup bahagia untuk masyarakat sebagai penyelenggara. Ritual upacara masyarakat saat ini sarat dengan ritual upacara pembangkitan bathin, bukan pemujaan dewata semata-mata, bahkan tidak dikenal prinsip penyembahan.

Sedangkan spiritualnya adalah metode penggalian, pembangkitan sampai penyadaran atas spirit pribadi sebagai wahana menuju pencapaian mamfaat hidup bahagia, dengan prinsip tapa, brta, yoga dan samadhi. Sebagai wujud nyata spiritual itu adalah tindakan nyata sebagai disiplin prilaku atas ajaran yang diperoleh dari konsep yang dikembangkan pada model tradisi ritual tertentu, dengan dimatangkan melalui tapa, brta, yoga dan samadhi sampai tercapainya Nirvana.

Begitu sempurnanya kualitas ajaran hidup yang teruntai pada konsep yang praktis sebagai pengemban ajaran siwa budha manunggal, dikemas dengan baik pada pelaksanaan ritual upacara serta dikelola dengan sempurna pada kualitas spiritual yang mapan pada kesadaran bathin yang unggul.

Begitulah masyarakat pada jaman itu yang mengutamakan kualitas ritual sebagai pencapaian kebahagiaannya, kualitas hidup sebagai wujud nyata berspiritual dan kualitas hidup sebagai konsep dharma didunia ini ( dharmacakra ).

Om Ah Hum
Ong Vajradhaka Ah Hung.